"Permasalahan yang muncul dalam organisasi tidak dapat dihindarkan lagi karena memang tidak mungkin semua
anggota memiliki kehendak yang sama hingga terjadi perselisihan dan kadang
sebagian merasa tersakiti. Ketua organisasilah yang sering menjadi kambing hitam
atas ketidakpuasan kinerja organisasi, dan para senior seringkali malah
menambah tersudutkannya pengurus organisasi tersebut. Jika pengurus tidak
berjalan?lagi-lagi ketualah yang kena getahnya."
Menjadi
seorang pemimpin bisa dikatakan mudah bisa juga sangat sulit. Seorang pemimpin
dituntut untuk bisa mengayomi semua aspirasi anggotanya mulai dari yang lebih
muda hingga yang lebih tua darinya. Memimpin bisa lebih mudah jika semua
anggota dapat bekerjasama dan saling menghormati, yang muda menghormati yang lebih
tua dan yang tua pun harus menghargai yang lebih muda, dan juga tentunya harus
menghormati pula kepada pemimpinnya meskipun pemimpinnya seorang yang lebih
muda. Tanpa ada rasa hormat kepada seorang pemimpin, perdebatan dalam
organisasi akan didominasi oleh orang yang lebih tua dan bukan tidak mungkin
ketua organisasi (yang lebih muda) hanya menjadi kambing hitam atas segala
keluh kesah dan ketidakpuasan mereka yang merasa tua ataupun senior dalam
organisasi tersebut.
Seringkali
para pemimpin terjerumus dengan menampilkan masalah pribadi sebagai tedeng
alih-alih dalam pembelaan diri atas tuntutan ketidakpuasan kinerja organisasi
dari para anggota lebih khusus para senior yang notabene merasa lebih bijak.
Suatu sikap kekanak-kanakan saya kira dan tidak professional. Seburuk apapun
performa seorang pemimpin tidak akan lebih buruk kinerja organisasi yang dipimpinnya—daripada organisasi yang memiliki pemimpin handal
namun para anggotanya teledor—jika memiliki anggota yang peduli, merasa
memiliki organisasi dan menaruh rasa hormat terhadap seorang pimpinan. Sebagai
seorang pemimpin harusnya menyimpan rapat-rapat urusan pribadinya dari urusan
organisasi jangan sampai ketika tertekan dengan keadaan, urusan pribadi menjadi
kartu AS yang siap dikeluarkan karena hal itu jelaslah menurunkan kredibilitas
seorang pemimpin, terkesan cengeng dan melunturkan rasa hormat. Pemimpin harus
tegar dan tegas, tegar dalam menerima segala kritikan baik yang menyalahkan
kepengurusan maupun pribadinya. Tegas dalam mengambil keputusan, jangan sampai
merasa dilecehkan karena bisa terombang-ambing oleh suara-suara yang kontroversial.
Tetaplah yakin atas keputusan yang telah diambil – tentunya setelah
mempertimbangkan usulan dan masukan dari para angota – dan buatlah semua
anggota menerima keputusan itu walaupun harus dengan cara tersudut yang mau tak
mau menerima keputusan tersebut, asalkan keputusan itu disetujui oleh sebagian
besar anggota. Biasanya hal ini hanya berlaku untuk anggota yang tidak mau
diberikan tugas namun menginginkan orang lain melakukan tugas tersebut dengan
baik. Dengan demikian wibawa seorang pemimpin akan tampak, tidak lemah terhadap
kritikan dan tegas dalam mengambil keputusan. Milikilah prinsip bahwasanya
kegiatan organisasi adalah pekerjaan bersama bukan hanya pekerjaan ketua,
masalah organisasi ditanggung bersama bukan hanya kesalahan salah satu anggota
ataupun ketua. Namun tetap saja seorang ketua memiliki tanggungjawab yang lebih
besar daripada anggota, kesuksesan organisasi tergantung daripada bagaimana seorang
pemimpin membawakannya. Pendekatan emosional kepada para anggota adalah salah
satu kunci sukses solidnya organisasi yang akan memupuk rasa kepercayaan kepada
seorang pemimpin dan ketika sudah terbentuk kepercayaan maka pembagian tugas
dan kewajiban akan lebih mudah dilaksanakan dan dikontrol.
Demikian pula
para senior organisasi sering terjerumus dengan sikap sok bijak, paling benar,
dan merasa mampu memaksakan kehendaknya kepada organisasi, menyalahkan dan
menyudutkan kepengurusan yang dirasa tidak memuaskan dan pada akhirnya ketua
organisasilah yang menjadi kambing hitam atas tuntutan mereka. Tidak adil
rasanya jika hanya melontarkan tuntutan saja tanpa memberikan solusi atas
masalah yang sedang dihadapi. Sebagai seorang senior memang harus berhati
lapang karena harus rela dipimpin oleh orang yang lebih muda. Senior tentunya
mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan tersendiri dari para juniornya – yang
bahkan melebihi rasa hormat kepada pemimpin yang usianya lebih muda – dan hal
ini janganlah dijadikan kesempatan untuk berlaku seenaknya kepada pengurus
organisasi. Ketika ada suatu masalah ataupun hal-hal yang tidak sesuai dengan
pandangan mereka, maka luruskanlah bukan hanya menyalahkan dan menyudutkan.
Berikanlah nasehat dan besarkan hati para junior bahwasanya permasalahan dalam
organisasi itu akan selalu teap ada namun setiap masalah akan ada jalan keluar.
Bagi pengalaman-pengalaman yang dahulu pernah dijalani dan antisipasi kesalahan
yang sama di organisasi yang sekarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar