Rabu, 10 April 2013

Masalah organisasi, bagaimana harus menyikapi?



"Permasalahan yang muncul dalam organisasi tidak dapat dihindarkan lagi karena memang tidak mungkin semua anggota memiliki kehendak yang sama hingga terjadi perselisihan dan kadang sebagian merasa tersakiti. Ketua organisasilah yang sering menjadi kambing hitam atas ketidakpuasan kinerja organisasi, dan para senior seringkali malah menambah tersudutkannya pengurus organisasi tersebut. Jika pengurus tidak berjalan?lagi-lagi ketualah yang kena getahnya."

Menjadi seorang pemimpin bisa dikatakan mudah bisa juga sangat sulit. Seorang pemimpin dituntut untuk bisa mengayomi semua aspirasi anggotanya mulai dari yang lebih muda hingga yang lebih tua darinya. Memimpin bisa lebih mudah jika semua anggota dapat bekerjasama dan saling menghormati, yang muda menghormati yang lebih tua dan yang tua pun harus menghargai yang lebih muda, dan juga tentunya harus menghormati pula kepada pemimpinnya meskipun pemimpinnya seorang yang lebih muda. Tanpa ada rasa hormat kepada seorang pemimpin, perdebatan dalam organisasi akan didominasi oleh orang yang lebih tua dan bukan tidak mungkin ketua organisasi (yang lebih muda) hanya menjadi kambing hitam atas segala keluh kesah dan ketidakpuasan mereka yang merasa tua ataupun senior dalam organisasi tersebut.
Seringkali para pemimpin terjerumus dengan menampilkan masalah pribadi sebagai tedeng alih-alih dalam pembelaan diri atas tuntutan ketidakpuasan kinerja organisasi dari para anggota lebih khusus para senior yang notabene merasa lebih bijak. Suatu sikap kekanak-kanakan saya kira dan tidak professional. Seburuk apapun performa seorang pemimpin tidak akan lebih buruk kinerja organisasi yang dipimpinnya—daripada  organisasi yang memiliki pemimpin handal namun para anggotanya teledor—jika memiliki anggota yang peduli, merasa memiliki organisasi dan menaruh rasa hormat terhadap seorang pimpinan. Sebagai seorang pemimpin harusnya menyimpan rapat-rapat urusan pribadinya dari urusan organisasi jangan sampai ketika tertekan dengan keadaan, urusan pribadi menjadi kartu AS yang siap dikeluarkan karena hal itu jelaslah menurunkan kredibilitas seorang pemimpin, terkesan cengeng dan melunturkan rasa hormat. Pemimpin harus tegar dan tegas, tegar dalam menerima segala kritikan baik yang menyalahkan kepengurusan maupun pribadinya. Tegas dalam mengambil keputusan, jangan sampai merasa dilecehkan karena bisa terombang-ambing oleh suara-suara yang kontroversial. Tetaplah yakin atas keputusan yang telah diambil – tentunya setelah mempertimbangkan usulan dan masukan dari para angota – dan buatlah semua anggota menerima keputusan itu walaupun harus dengan cara tersudut yang mau tak mau menerima keputusan tersebut, asalkan keputusan itu disetujui oleh sebagian besar anggota. Biasanya hal ini hanya berlaku untuk anggota yang tidak mau diberikan tugas namun menginginkan orang lain melakukan tugas tersebut dengan baik. Dengan demikian wibawa seorang pemimpin akan tampak, tidak lemah terhadap kritikan dan tegas dalam mengambil keputusan. Milikilah prinsip bahwasanya kegiatan organisasi adalah pekerjaan bersama bukan hanya pekerjaan ketua, masalah organisasi ditanggung bersama bukan hanya kesalahan salah satu anggota ataupun ketua. Namun tetap saja seorang ketua memiliki tanggungjawab yang lebih besar daripada anggota, kesuksesan organisasi tergantung daripada bagaimana seorang pemimpin membawakannya. Pendekatan emosional kepada para anggota adalah salah satu kunci sukses solidnya organisasi yang akan memupuk rasa kepercayaan kepada seorang pemimpin dan ketika sudah terbentuk kepercayaan maka pembagian tugas dan kewajiban akan lebih mudah dilaksanakan dan dikontrol.
Demikian pula para senior organisasi sering terjerumus dengan sikap sok bijak, paling benar, dan merasa mampu memaksakan kehendaknya kepada organisasi, menyalahkan dan menyudutkan kepengurusan yang dirasa tidak memuaskan dan pada akhirnya ketua organisasilah yang menjadi kambing hitam atas tuntutan mereka. Tidak adil rasanya jika hanya melontarkan tuntutan saja tanpa memberikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi. Sebagai seorang senior memang harus berhati lapang karena harus rela dipimpin oleh orang yang lebih muda. Senior tentunya mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan tersendiri dari para juniornya – yang bahkan melebihi rasa hormat kepada pemimpin yang usianya lebih muda – dan hal ini janganlah dijadikan kesempatan untuk berlaku seenaknya kepada pengurus organisasi. Ketika ada suatu masalah ataupun hal-hal yang tidak sesuai dengan pandangan mereka, maka luruskanlah bukan hanya menyalahkan dan menyudutkan. Berikanlah nasehat dan besarkan hati para junior bahwasanya permasalahan dalam organisasi itu akan selalu teap ada namun setiap masalah akan ada jalan keluar. Bagi pengalaman-pengalaman yang dahulu pernah dijalani dan antisipasi kesalahan yang sama di organisasi yang sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar