Selasa, 30 April 2013

Hidup di dunia ini cuman 16 hari saja!

Ibadah itu emang urusan pribadi masing-masing karena amalan yang bakal nolong kita ya amalan kita masing-masing. Masalahnya gak ada jasa utang piutang amalan atau jasa simpan pinjam amalan di dunia ini, maka dari itu yang enggak punya atau belum punya sumber amalan, buru-buru deh cari biar engga "kedandapan" kalo orang jawa bilang. Artinya kelabakan. Tapi ada sih amal yang bisa difranchise-in (kayak bisnis aja), apa itu? 1. Amal jariyah 2. Ilmu yang bermanfaat dan 3. Anak yang sholeh. InsyaAllah itu tiga sumber amal yang bisa terus ngasi income walao kita telah tiada. Hm..tapi ntar dibahas lain kali aja, sekarang ane lagi pengen nyeletuk tentang itung-itungan nih.


Seorang bijak pernah bilang masalah terbesar yang kita hadapi di dunia ini adalah jika kita mati kita tidak masuk surga. Bukan masalah hidup miskin, bukan masalah rumah tangga yang tidak harmonis, bukan masalah utang bukan pula masalah perkejaan atau jabatan. Percuma punya segalanya di dunia ini tapi kalau mati tidak masuk surga.

Dunia ini berapa lama sih?

Singkat banget tau!

Nih coba hitung deh dalam al-qur'an disebutkan 1 hari di akhirat sebanding dengan 1000 tahun di dunia. Kalo kita hidup rata-rata 63 tahun di dunia ini berarti 63 x 365 hari = 22.995 hari belum dikurangi tahun kabisat yang hanya 364 hari dalam setahun. Maka kurang lebih 63 tahun itu sama dengan 23 hari di akhirat sana. Itu saja belum dikurangi juga waktu istirahat (tidur) kita yang rata-rata 6-8 jam per hari. Kalau tidur kan kita tidak ngapa-ngapain kan, sakit gak kerasa, nikmat pun gak kerasa. Jadi kalau masih dikurangi waktu buat tidur, maka total kita hidup dan beraktivitas di dunia cuman 16-18 hari-nya di akhirat nanti. Belum lagi dikurangi umur-umur non-produktif manusia (semasa balita dan kalo sudah jadi manula, kan sama aja gak bisa ngapa-ngapain. Masih bayi belum tau apa-apa, giliran jadi manula semuanya sudah lupa), ntah berkurang berapa hari lagi itu. Padahal ya, kita nanti di akhirat hidupnya kekal tanpa batas waktu, kalau bahasa matematikanya mendekati nilai tak hingga.

SO WHAT?
Yang masih belum nyadar juga, ane kasih tau lebih banyak deh ketimbang entar ente pada nyesel di akhir. Lo, Gue, Ente, Ane, kita semua (yang manusia aja, soalnya ane gak bisa ngajak komunikasi selain manusia) di kasih kesempatan hidup di dunia ini tidak lain tidak bukan hanya dan hanya untuk menyembah Allah SWT (Q.S Adz-Dzariyat : 56). Tapi Allah nggak banyak nuntut dari kita kok, cuman luangin sedikit waktu buat "ngibadah" aja uda cukup, sholat berapa lama sih? Cuman 10 menit itu aja ada yang kilat 5 menit selesai. Sehari cuman gak lebih dari satu jam selebihnya kita bisa menikmati indahnya dunia. 

Bayangin deh hidup 16 hari ditukar sama hidup enak selamanya, wuih...siapa yang enggak mau coba? Pakar ekonomi aja enggak mampu ngitung berapa untung yang bakal kita dapat, prinsip ekonomi banget kan ini modal seminimal mungkin dapetnya semaksimal mungkin. Kalau di dunia maksimal yang kita dapat masih ada batasnya, tapi tidak nanti di akhirat, pikiran kita aja enggak mampu njangkau. Enak kan ya?
Tapi ada juga menu lain, 16 hari itu ditukar sama hidup sengsara dan penuh siksaan selamanya. Nah tinggal pilih deh. Yang enak ya tentu saja di surga, yang pait ya di neraka.

Gimana cara masuk ke surga?
Lewat pintu mas broo...
Kalau ane bilang sih berbuat baik saja tidak cukup, sebagai muslim (orang islam) ada beberapa kewajiban beribadah kepada Allah, adek-adek kita yang di TPA saja tau. Apa itu? Rukun islam lah ya.
Syahadat-Sholat-Puasa-Zakat-Haji. Jadi kalo kita benar-benar melaksanakan ibadah-ibadah tersebut dengan penuh keikhlasan maka otomatis dah urusan moral, kepribadian, berbuat baik, menjadi bijak itu sudah tersemat dan menjadi aksesoris diri kita.

Jadi intinya sadar dulu deh kita ada di dunia ini buat apa.
Buat apa? Geeezzz uda baca segitu panjangnya belum juga ngarti,,kebangetan dah! Baca lagi dari Awal!!

Kamis, 18 April 2013

Paket Hidup di Dunia



Terus berjalan,
Bergerak maju tanpa henti,
Tak pernah sekalipun beristirahat,
Tak mempedulikan apa yang ditinggalkannya di belakang,
Ataupun apa yang akan menghadangnya di depan,
Tidak pula melambat atau mempercepat,
Yang dia tahu hanyalah berjalan ke depan,
Karena tidak ada jalan lain untuk mengulang,
Itulah waktu.

Halo Sobat Ceku (celetuk unik), heheh...penulis bikin panggilan buat pembaca blog ini, biar enak aja interaktifnya. Huhh.. Sok akrab! Hahaha gapapa kan ya, XD
Kali ini Ceku pengen nyeletuk masalah waktu, seperti yang tertulis pada beberapa baris di atas, waktu cuman bisa jalan maju aja gak bisa jalan mundur dan gak bisa diulang mangkanya kita punya waktu mesti merhatiin tuh rule-nya biar enggak nyesel di kemudian hari. Kata sebagian orang waktu berjalan cepat, tapi sebagian yang lain mengatakan waktu begitu lambat padahal nyatanya waktu itu jalannya konstan tidak pernah melambat ataupun menjadi cepat. Jadi cepat atau lambatnya waktu yang kita rasakan hanyalah penilaian subjektif. Yang jelas adalah kita sehari semalam punya waktu yang sama yaitu 24 jam. Mau kita gunain itu waktu atau mau kita anggurin aja hasilnya sama, habis. Jadi bener apa yang dikatakan dalam Qur'an (ngaji nih) surat Al-ashr demi waktu sesungguhnya kita manusia itu berada dalam kerugian, karena ibarat pulsa yang didaftarin paket internet seharian unlimitted bisa kita manfaatin buat browsing, download seharian penuh yang hasilnya kita dapat banyak untung atau tidak digunakan sama sekali yang berarti cuman dapet tangan kosong aja. Rugi kan kalo kita punya akses tak terbatas tapi engga dimanfaatin? Itulah makanya dikatakan rugi, kecuali nih (lanjutan ayatnya) orang-orang yang beriman yang berbuat amal shaleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Tuh catet, yang nggak rugi itu adalah orang-orang yang punya keimanan terhadap yang punya hidup dan berbuat baik. Kalau berbuat buruk, ngrampok misalkan untung juga sih, besar lagi tapi untungnya cuma dalam hal perhitungan harta, itu saja untungnya enggak ketangkep polisi. Kkalo perhitungan amal wah rugi banget deh itu mah di akhirat nanti. Selain berbuat baik juga yang saling menasihati untuk tetap dalam kebenaran dan juga tetap sabar. Ini nih kita jadi manusia dikasih sedikit peluang aja langsung maen sabet entah itu benar ato enggak, entah merugikan yang lain ato enggak. Kalo engga gitu kita punya prinsip tapi di iming-iming mau aja ngejalanin hal yang gak bener, waduh..makanya kita harus saling mengingatkan agar tetap di jalur yang benar. Kalau dikasih musibah sama Allah ya kudu sabar. Ngomong mah gampang, susah ngejalaninnya tau! Iye ngarti, makanya yang enggak ketiban musibah itulah yang gampang ngomong sabar jadinya ngingetin yang lagi kena musibah soalnya kalo yang ngomong tadi kena musibah juga belum tentu bisa ngomong sabar. Beruntunglah kita-kita yang mungkin saat ini lagi diuji oleh Allah berupa musibah masih ada yang ngingetin buat sabar, jangan malah diencepin "lu mah ngomong sabar gampang orang gua yang kena musibah bukan elu". Bayangin kalo gak ada yang nasehatin kita buat tetep sabar belum tentu iman kita kuat ngejalanin itu semua.

Waktu bagaikan pisau bermata dua (halah istilah pasaran), kalau bisa kita menggunakannya jadi deh hasilnya baik, sukses. Tapi kalau tidak bisa menggunakannya bisa-bisa malah mencelakai diri sendiri, rugi. Mangkanya yuk belajar ngatur waktu kita, jangan biarkan tersia-sia. Kita daftar paket internet aja bela-belain begadang buat manfaatin tuh akses ke jaringan internet apalagi kita sekarang lagi daftar paket hidup di dunia jadi ya musti kita manfaatin juga biar sehabis masa aktif di paket dunia ini ntar kita masih bisa menikmati hasil yang kita download di akhirat kelak. Nyambung gak sih sama judulnya? Enggak ya? Biar aja deh.

Rabu, 10 April 2013

Masalah organisasi, bagaimana harus menyikapi?



"Permasalahan yang muncul dalam organisasi tidak dapat dihindarkan lagi karena memang tidak mungkin semua anggota memiliki kehendak yang sama hingga terjadi perselisihan dan kadang sebagian merasa tersakiti. Ketua organisasilah yang sering menjadi kambing hitam atas ketidakpuasan kinerja organisasi, dan para senior seringkali malah menambah tersudutkannya pengurus organisasi tersebut. Jika pengurus tidak berjalan?lagi-lagi ketualah yang kena getahnya."

Menjadi seorang pemimpin bisa dikatakan mudah bisa juga sangat sulit. Seorang pemimpin dituntut untuk bisa mengayomi semua aspirasi anggotanya mulai dari yang lebih muda hingga yang lebih tua darinya. Memimpin bisa lebih mudah jika semua anggota dapat bekerjasama dan saling menghormati, yang muda menghormati yang lebih tua dan yang tua pun harus menghargai yang lebih muda, dan juga tentunya harus menghormati pula kepada pemimpinnya meskipun pemimpinnya seorang yang lebih muda. Tanpa ada rasa hormat kepada seorang pemimpin, perdebatan dalam organisasi akan didominasi oleh orang yang lebih tua dan bukan tidak mungkin ketua organisasi (yang lebih muda) hanya menjadi kambing hitam atas segala keluh kesah dan ketidakpuasan mereka yang merasa tua ataupun senior dalam organisasi tersebut.
Seringkali para pemimpin terjerumus dengan menampilkan masalah pribadi sebagai tedeng alih-alih dalam pembelaan diri atas tuntutan ketidakpuasan kinerja organisasi dari para anggota lebih khusus para senior yang notabene merasa lebih bijak. Suatu sikap kekanak-kanakan saya kira dan tidak professional. Seburuk apapun performa seorang pemimpin tidak akan lebih buruk kinerja organisasi yang dipimpinnya—daripada  organisasi yang memiliki pemimpin handal namun para anggotanya teledor—jika memiliki anggota yang peduli, merasa memiliki organisasi dan menaruh rasa hormat terhadap seorang pimpinan. Sebagai seorang pemimpin harusnya menyimpan rapat-rapat urusan pribadinya dari urusan organisasi jangan sampai ketika tertekan dengan keadaan, urusan pribadi menjadi kartu AS yang siap dikeluarkan karena hal itu jelaslah menurunkan kredibilitas seorang pemimpin, terkesan cengeng dan melunturkan rasa hormat. Pemimpin harus tegar dan tegas, tegar dalam menerima segala kritikan baik yang menyalahkan kepengurusan maupun pribadinya. Tegas dalam mengambil keputusan, jangan sampai merasa dilecehkan karena bisa terombang-ambing oleh suara-suara yang kontroversial. Tetaplah yakin atas keputusan yang telah diambil – tentunya setelah mempertimbangkan usulan dan masukan dari para angota – dan buatlah semua anggota menerima keputusan itu walaupun harus dengan cara tersudut yang mau tak mau menerima keputusan tersebut, asalkan keputusan itu disetujui oleh sebagian besar anggota. Biasanya hal ini hanya berlaku untuk anggota yang tidak mau diberikan tugas namun menginginkan orang lain melakukan tugas tersebut dengan baik. Dengan demikian wibawa seorang pemimpin akan tampak, tidak lemah terhadap kritikan dan tegas dalam mengambil keputusan. Milikilah prinsip bahwasanya kegiatan organisasi adalah pekerjaan bersama bukan hanya pekerjaan ketua, masalah organisasi ditanggung bersama bukan hanya kesalahan salah satu anggota ataupun ketua. Namun tetap saja seorang ketua memiliki tanggungjawab yang lebih besar daripada anggota, kesuksesan organisasi tergantung daripada bagaimana seorang pemimpin membawakannya. Pendekatan emosional kepada para anggota adalah salah satu kunci sukses solidnya organisasi yang akan memupuk rasa kepercayaan kepada seorang pemimpin dan ketika sudah terbentuk kepercayaan maka pembagian tugas dan kewajiban akan lebih mudah dilaksanakan dan dikontrol.
Demikian pula para senior organisasi sering terjerumus dengan sikap sok bijak, paling benar, dan merasa mampu memaksakan kehendaknya kepada organisasi, menyalahkan dan menyudutkan kepengurusan yang dirasa tidak memuaskan dan pada akhirnya ketua organisasilah yang menjadi kambing hitam atas tuntutan mereka. Tidak adil rasanya jika hanya melontarkan tuntutan saja tanpa memberikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi. Sebagai seorang senior memang harus berhati lapang karena harus rela dipimpin oleh orang yang lebih muda. Senior tentunya mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan tersendiri dari para juniornya – yang bahkan melebihi rasa hormat kepada pemimpin yang usianya lebih muda – dan hal ini janganlah dijadikan kesempatan untuk berlaku seenaknya kepada pengurus organisasi. Ketika ada suatu masalah ataupun hal-hal yang tidak sesuai dengan pandangan mereka, maka luruskanlah bukan hanya menyalahkan dan menyudutkan. Berikanlah nasehat dan besarkan hati para junior bahwasanya permasalahan dalam organisasi itu akan selalu teap ada namun setiap masalah akan ada jalan keluar. Bagi pengalaman-pengalaman yang dahulu pernah dijalani dan antisipasi kesalahan yang sama di organisasi yang sekarang.