Selasa, 30 April 2013

Hidup di dunia ini cuman 16 hari saja!

Ibadah itu emang urusan pribadi masing-masing karena amalan yang bakal nolong kita ya amalan kita masing-masing. Masalahnya gak ada jasa utang piutang amalan atau jasa simpan pinjam amalan di dunia ini, maka dari itu yang enggak punya atau belum punya sumber amalan, buru-buru deh cari biar engga "kedandapan" kalo orang jawa bilang. Artinya kelabakan. Tapi ada sih amal yang bisa difranchise-in (kayak bisnis aja), apa itu? 1. Amal jariyah 2. Ilmu yang bermanfaat dan 3. Anak yang sholeh. InsyaAllah itu tiga sumber amal yang bisa terus ngasi income walao kita telah tiada. Hm..tapi ntar dibahas lain kali aja, sekarang ane lagi pengen nyeletuk tentang itung-itungan nih.


Seorang bijak pernah bilang masalah terbesar yang kita hadapi di dunia ini adalah jika kita mati kita tidak masuk surga. Bukan masalah hidup miskin, bukan masalah rumah tangga yang tidak harmonis, bukan masalah utang bukan pula masalah perkejaan atau jabatan. Percuma punya segalanya di dunia ini tapi kalau mati tidak masuk surga.

Dunia ini berapa lama sih?

Singkat banget tau!

Nih coba hitung deh dalam al-qur'an disebutkan 1 hari di akhirat sebanding dengan 1000 tahun di dunia. Kalo kita hidup rata-rata 63 tahun di dunia ini berarti 63 x 365 hari = 22.995 hari belum dikurangi tahun kabisat yang hanya 364 hari dalam setahun. Maka kurang lebih 63 tahun itu sama dengan 23 hari di akhirat sana. Itu saja belum dikurangi juga waktu istirahat (tidur) kita yang rata-rata 6-8 jam per hari. Kalau tidur kan kita tidak ngapa-ngapain kan, sakit gak kerasa, nikmat pun gak kerasa. Jadi kalau masih dikurangi waktu buat tidur, maka total kita hidup dan beraktivitas di dunia cuman 16-18 hari-nya di akhirat nanti. Belum lagi dikurangi umur-umur non-produktif manusia (semasa balita dan kalo sudah jadi manula, kan sama aja gak bisa ngapa-ngapain. Masih bayi belum tau apa-apa, giliran jadi manula semuanya sudah lupa), ntah berkurang berapa hari lagi itu. Padahal ya, kita nanti di akhirat hidupnya kekal tanpa batas waktu, kalau bahasa matematikanya mendekati nilai tak hingga.

SO WHAT?
Yang masih belum nyadar juga, ane kasih tau lebih banyak deh ketimbang entar ente pada nyesel di akhir. Lo, Gue, Ente, Ane, kita semua (yang manusia aja, soalnya ane gak bisa ngajak komunikasi selain manusia) di kasih kesempatan hidup di dunia ini tidak lain tidak bukan hanya dan hanya untuk menyembah Allah SWT (Q.S Adz-Dzariyat : 56). Tapi Allah nggak banyak nuntut dari kita kok, cuman luangin sedikit waktu buat "ngibadah" aja uda cukup, sholat berapa lama sih? Cuman 10 menit itu aja ada yang kilat 5 menit selesai. Sehari cuman gak lebih dari satu jam selebihnya kita bisa menikmati indahnya dunia. 

Bayangin deh hidup 16 hari ditukar sama hidup enak selamanya, wuih...siapa yang enggak mau coba? Pakar ekonomi aja enggak mampu ngitung berapa untung yang bakal kita dapat, prinsip ekonomi banget kan ini modal seminimal mungkin dapetnya semaksimal mungkin. Kalau di dunia maksimal yang kita dapat masih ada batasnya, tapi tidak nanti di akhirat, pikiran kita aja enggak mampu njangkau. Enak kan ya?
Tapi ada juga menu lain, 16 hari itu ditukar sama hidup sengsara dan penuh siksaan selamanya. Nah tinggal pilih deh. Yang enak ya tentu saja di surga, yang pait ya di neraka.

Gimana cara masuk ke surga?
Lewat pintu mas broo...
Kalau ane bilang sih berbuat baik saja tidak cukup, sebagai muslim (orang islam) ada beberapa kewajiban beribadah kepada Allah, adek-adek kita yang di TPA saja tau. Apa itu? Rukun islam lah ya.
Syahadat-Sholat-Puasa-Zakat-Haji. Jadi kalo kita benar-benar melaksanakan ibadah-ibadah tersebut dengan penuh keikhlasan maka otomatis dah urusan moral, kepribadian, berbuat baik, menjadi bijak itu sudah tersemat dan menjadi aksesoris diri kita.

Jadi intinya sadar dulu deh kita ada di dunia ini buat apa.
Buat apa? Geeezzz uda baca segitu panjangnya belum juga ngarti,,kebangetan dah! Baca lagi dari Awal!!

Kamis, 18 April 2013

Paket Hidup di Dunia



Terus berjalan,
Bergerak maju tanpa henti,
Tak pernah sekalipun beristirahat,
Tak mempedulikan apa yang ditinggalkannya di belakang,
Ataupun apa yang akan menghadangnya di depan,
Tidak pula melambat atau mempercepat,
Yang dia tahu hanyalah berjalan ke depan,
Karena tidak ada jalan lain untuk mengulang,
Itulah waktu.

Halo Sobat Ceku (celetuk unik), heheh...penulis bikin panggilan buat pembaca blog ini, biar enak aja interaktifnya. Huhh.. Sok akrab! Hahaha gapapa kan ya, XD
Kali ini Ceku pengen nyeletuk masalah waktu, seperti yang tertulis pada beberapa baris di atas, waktu cuman bisa jalan maju aja gak bisa jalan mundur dan gak bisa diulang mangkanya kita punya waktu mesti merhatiin tuh rule-nya biar enggak nyesel di kemudian hari. Kata sebagian orang waktu berjalan cepat, tapi sebagian yang lain mengatakan waktu begitu lambat padahal nyatanya waktu itu jalannya konstan tidak pernah melambat ataupun menjadi cepat. Jadi cepat atau lambatnya waktu yang kita rasakan hanyalah penilaian subjektif. Yang jelas adalah kita sehari semalam punya waktu yang sama yaitu 24 jam. Mau kita gunain itu waktu atau mau kita anggurin aja hasilnya sama, habis. Jadi bener apa yang dikatakan dalam Qur'an (ngaji nih) surat Al-ashr demi waktu sesungguhnya kita manusia itu berada dalam kerugian, karena ibarat pulsa yang didaftarin paket internet seharian unlimitted bisa kita manfaatin buat browsing, download seharian penuh yang hasilnya kita dapat banyak untung atau tidak digunakan sama sekali yang berarti cuman dapet tangan kosong aja. Rugi kan kalo kita punya akses tak terbatas tapi engga dimanfaatin? Itulah makanya dikatakan rugi, kecuali nih (lanjutan ayatnya) orang-orang yang beriman yang berbuat amal shaleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Tuh catet, yang nggak rugi itu adalah orang-orang yang punya keimanan terhadap yang punya hidup dan berbuat baik. Kalau berbuat buruk, ngrampok misalkan untung juga sih, besar lagi tapi untungnya cuma dalam hal perhitungan harta, itu saja untungnya enggak ketangkep polisi. Kkalo perhitungan amal wah rugi banget deh itu mah di akhirat nanti. Selain berbuat baik juga yang saling menasihati untuk tetap dalam kebenaran dan juga tetap sabar. Ini nih kita jadi manusia dikasih sedikit peluang aja langsung maen sabet entah itu benar ato enggak, entah merugikan yang lain ato enggak. Kalo engga gitu kita punya prinsip tapi di iming-iming mau aja ngejalanin hal yang gak bener, waduh..makanya kita harus saling mengingatkan agar tetap di jalur yang benar. Kalau dikasih musibah sama Allah ya kudu sabar. Ngomong mah gampang, susah ngejalaninnya tau! Iye ngarti, makanya yang enggak ketiban musibah itulah yang gampang ngomong sabar jadinya ngingetin yang lagi kena musibah soalnya kalo yang ngomong tadi kena musibah juga belum tentu bisa ngomong sabar. Beruntunglah kita-kita yang mungkin saat ini lagi diuji oleh Allah berupa musibah masih ada yang ngingetin buat sabar, jangan malah diencepin "lu mah ngomong sabar gampang orang gua yang kena musibah bukan elu". Bayangin kalo gak ada yang nasehatin kita buat tetep sabar belum tentu iman kita kuat ngejalanin itu semua.

Waktu bagaikan pisau bermata dua (halah istilah pasaran), kalau bisa kita menggunakannya jadi deh hasilnya baik, sukses. Tapi kalau tidak bisa menggunakannya bisa-bisa malah mencelakai diri sendiri, rugi. Mangkanya yuk belajar ngatur waktu kita, jangan biarkan tersia-sia. Kita daftar paket internet aja bela-belain begadang buat manfaatin tuh akses ke jaringan internet apalagi kita sekarang lagi daftar paket hidup di dunia jadi ya musti kita manfaatin juga biar sehabis masa aktif di paket dunia ini ntar kita masih bisa menikmati hasil yang kita download di akhirat kelak. Nyambung gak sih sama judulnya? Enggak ya? Biar aja deh.

Rabu, 10 April 2013

Masalah organisasi, bagaimana harus menyikapi?



"Permasalahan yang muncul dalam organisasi tidak dapat dihindarkan lagi karena memang tidak mungkin semua anggota memiliki kehendak yang sama hingga terjadi perselisihan dan kadang sebagian merasa tersakiti. Ketua organisasilah yang sering menjadi kambing hitam atas ketidakpuasan kinerja organisasi, dan para senior seringkali malah menambah tersudutkannya pengurus organisasi tersebut. Jika pengurus tidak berjalan?lagi-lagi ketualah yang kena getahnya."

Menjadi seorang pemimpin bisa dikatakan mudah bisa juga sangat sulit. Seorang pemimpin dituntut untuk bisa mengayomi semua aspirasi anggotanya mulai dari yang lebih muda hingga yang lebih tua darinya. Memimpin bisa lebih mudah jika semua anggota dapat bekerjasama dan saling menghormati, yang muda menghormati yang lebih tua dan yang tua pun harus menghargai yang lebih muda, dan juga tentunya harus menghormati pula kepada pemimpinnya meskipun pemimpinnya seorang yang lebih muda. Tanpa ada rasa hormat kepada seorang pemimpin, perdebatan dalam organisasi akan didominasi oleh orang yang lebih tua dan bukan tidak mungkin ketua organisasi (yang lebih muda) hanya menjadi kambing hitam atas segala keluh kesah dan ketidakpuasan mereka yang merasa tua ataupun senior dalam organisasi tersebut.
Seringkali para pemimpin terjerumus dengan menampilkan masalah pribadi sebagai tedeng alih-alih dalam pembelaan diri atas tuntutan ketidakpuasan kinerja organisasi dari para anggota lebih khusus para senior yang notabene merasa lebih bijak. Suatu sikap kekanak-kanakan saya kira dan tidak professional. Seburuk apapun performa seorang pemimpin tidak akan lebih buruk kinerja organisasi yang dipimpinnya—daripada  organisasi yang memiliki pemimpin handal namun para anggotanya teledor—jika memiliki anggota yang peduli, merasa memiliki organisasi dan menaruh rasa hormat terhadap seorang pimpinan. Sebagai seorang pemimpin harusnya menyimpan rapat-rapat urusan pribadinya dari urusan organisasi jangan sampai ketika tertekan dengan keadaan, urusan pribadi menjadi kartu AS yang siap dikeluarkan karena hal itu jelaslah menurunkan kredibilitas seorang pemimpin, terkesan cengeng dan melunturkan rasa hormat. Pemimpin harus tegar dan tegas, tegar dalam menerima segala kritikan baik yang menyalahkan kepengurusan maupun pribadinya. Tegas dalam mengambil keputusan, jangan sampai merasa dilecehkan karena bisa terombang-ambing oleh suara-suara yang kontroversial. Tetaplah yakin atas keputusan yang telah diambil – tentunya setelah mempertimbangkan usulan dan masukan dari para angota – dan buatlah semua anggota menerima keputusan itu walaupun harus dengan cara tersudut yang mau tak mau menerima keputusan tersebut, asalkan keputusan itu disetujui oleh sebagian besar anggota. Biasanya hal ini hanya berlaku untuk anggota yang tidak mau diberikan tugas namun menginginkan orang lain melakukan tugas tersebut dengan baik. Dengan demikian wibawa seorang pemimpin akan tampak, tidak lemah terhadap kritikan dan tegas dalam mengambil keputusan. Milikilah prinsip bahwasanya kegiatan organisasi adalah pekerjaan bersama bukan hanya pekerjaan ketua, masalah organisasi ditanggung bersama bukan hanya kesalahan salah satu anggota ataupun ketua. Namun tetap saja seorang ketua memiliki tanggungjawab yang lebih besar daripada anggota, kesuksesan organisasi tergantung daripada bagaimana seorang pemimpin membawakannya. Pendekatan emosional kepada para anggota adalah salah satu kunci sukses solidnya organisasi yang akan memupuk rasa kepercayaan kepada seorang pemimpin dan ketika sudah terbentuk kepercayaan maka pembagian tugas dan kewajiban akan lebih mudah dilaksanakan dan dikontrol.
Demikian pula para senior organisasi sering terjerumus dengan sikap sok bijak, paling benar, dan merasa mampu memaksakan kehendaknya kepada organisasi, menyalahkan dan menyudutkan kepengurusan yang dirasa tidak memuaskan dan pada akhirnya ketua organisasilah yang menjadi kambing hitam atas tuntutan mereka. Tidak adil rasanya jika hanya melontarkan tuntutan saja tanpa memberikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi. Sebagai seorang senior memang harus berhati lapang karena harus rela dipimpin oleh orang yang lebih muda. Senior tentunya mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan tersendiri dari para juniornya – yang bahkan melebihi rasa hormat kepada pemimpin yang usianya lebih muda – dan hal ini janganlah dijadikan kesempatan untuk berlaku seenaknya kepada pengurus organisasi. Ketika ada suatu masalah ataupun hal-hal yang tidak sesuai dengan pandangan mereka, maka luruskanlah bukan hanya menyalahkan dan menyudutkan. Berikanlah nasehat dan besarkan hati para junior bahwasanya permasalahan dalam organisasi itu akan selalu teap ada namun setiap masalah akan ada jalan keluar. Bagi pengalaman-pengalaman yang dahulu pernah dijalani dan antisipasi kesalahan yang sama di organisasi yang sekarang.

Rabu, 13 Februari 2013

Jalani Hidup? Enjoy aja..!


Menjalani hidup itu seperti kita berjalan di persimpangan jalan satu arah, selalu ada pilihan kemana kita ingin melangkah, ke kiri, ke kanan, serong, atau lurus namun yang pasti tidak dapat berjalan kembali ke belakang, ntar kena tilang hehe.. Tiap-tiap jalan ditemui hal yang berbeda, membawa kita pada situasi yang berbeda, rintangan yang berbeda, kesenangan, kesedihan, dan kondisi hidup yang berbeda. Tapi kabar buruknya atau baiknya kita sama sekali tidak tahu apa yang akan kita lewati, clueless. Katanya sih, semua yang terjadi sama kita itu adalah takdir yang telah dituliskan Allah untuk kita, kalau banyak persimpangan jalan yang kita pilih jadi Allah itu menuliskan satu jalur takdir atau banyak alternatif takdir untuk manusia? Si A nih kalo milih jalur 1-2-4-6-9 akan jadi seperti ini kalo milih jalur 1-3-8-12-20 akan jadi seperti ini, kalo milih jalur lain hasilnya juga lain, begitukah? Ni Allah kaya lagi ngerjain tugas statistik aja nih main peluang dan combinasi angka, malah mirip seperti naik busway ya,hehe. Atau Allah itu cuma menuliskan satu jalur takdir buat kita? kalau kita keluar dari jalur karena perbuatan kita sendiri maka ga jelas deh gimana akhirnya karena blom ditulis. Uda deh engga usah mikir yang macem-macem, kebanyakan mikir ente malah bisa merusak iman karena meragukan kapasitas dan keberadaan Allah. Ketahuilah Allah itu sudah menuliskan takdir berupa empat macam hal buat kita ketika kita berumur 120 hari di rahim ibu, ketika ruh kita ditiupkan oleh malaikat. Apa itu? 1. Maut/ ajal, 2. Rizky, 3. Bahagia, dan 4. Celaka. Dan takdir itu sendiri ada yang bisa dirubah dan ada yang tidak bisa dirubah. Nah karena Allah baek nih, bijak nih, adil nih, Dia engga ngasi tau ke kita mana aja tu takdir yang tidak bisa dirubah dan mana yang bisa dirubah. Kenapa? Ya simpel aja biar kita-kita tetap berusahalah kalau kita udah tau hasilnya engga bakal bisa dirubah kan pastinya pada males tuh capek-capek berusaha merubahnya, biar kata jelek tapi diterima karena ga bisa dirubah. Nah Allah tu ga mau kita kaya gitu karena dengan kita berusaha dengan tenaga kita, kita bergerak dengan tubuh kita, kita berpikir dengan otak kita, kita ga cuman untung secara jasmani aja tuh karna badan kita sehat tapi juga secara rohani, batin kita akan mendapatkan ketenangan, kedamain, kepuasaan. Kita bisa merasakan bagaimana kecewanya saat kita gagal, bagaimana bahagianya saat kita berhasil, anugerah itu buat kita kalo kita mau berpikir.
Trus gimana donk mestinya kita menjalani hidup ini? Enjoy aja kawan, nikmatin aja prosesnya ga usah mikirin yang kita perjuangkan nanti bisa merubah takdir kita atau engga. Urusan hasil mah itu urusan Allah, urusan kita manusia hanya berdoa dan berusaha. Yakin aja Allah itu Maha Baik, Maha Bijak, Maha Peduli, Maha Pengertian dan Maha-Maha yang lain karena Dia-lah Maha Pemilik Sifat, dan ini nih yang mesti kita pegang, Allah selalu memberikan yang TERBAIK untuk hambaNya, untuk kita, untuk manusia. Kok yakin banget sih? Iya donk itu janji Allah, baca tuh Al-qur'an ampe tuntas. Jangan bilang nih ada yang belom pernah baca terjemahan Al-qur'an? Jangankan tuntas, satu surat aja blom khatam terjemahnya. Hadeh…ibarat beli mesin cuci nih, kita aja engga percaya itu mesin bisa nyuci beneran ato engga kalo kita pake, bisa bersih ato engga kalo kita engga tau spesifikasi dan penjelasan dari mesin itu untuk apa. Sama, untuk mengenal Allah yang Maha-Maha itu kalo kita engga baca petunjukNya ya mana bisa kita dibilang uda percaya. Saya isalm nih, saya beriman kok, percaya sama Allah. Tapi seberapa besar iman kita padaNya kalo informasi yang kita punya cuman sedikit? Bukankah kalo kita semakin mengerti dan memahami satu informasi akibatnya kita akan bertambah semakin percaya? Itulah kenali dulu Allah maka niscaya semakin mantap nih kita dalam menentukan langkah sebab kita jadi percaya dan betul-betul percaya kalau Allah itu sudah menyiapkan apa-apa yang kita butuhkan, jangankan di dunia sampe di akhiratpun sudah disiapkan buat kita.
Di dunia ini mah urusan rizki urusan Allah, urusan hidup dan mati urusan Allah, kita bahagia, celaka karena Allah menghendakinya demikian untuk kita. Berdoa dan berusaha sajalah kalo Allah bilang "Jadi" maka apapun bisa jadi atas kehendakNya. Takut miskin? Takut engga bagahia? Takut sengsara? Itu mah bisikan setan aja, masa kita kalah ama setan? Jangan donk engga elit banget makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan kalah sama makhluk tingkat rendah, iya kan? manusia kan makhluk paling sempurna diantara yang lain. Sudahlah kawan yang sedang risau karena hidupnya banyak masalah, pusing mikirin nasibnya yang engga jelas juntrungnya kemana, galau resah gelisah hidupnya ga tenang, uda deh deketin aja Allah insyaAlah semua urusan BERES! Ingat, dalam setiap musibah pun terselip hikmah. PR kita tuh kalau bisa nemuin tu hikmah dibalik semua peristiwa yang menerpa kita insyaAllah deh engga ada lagi rasa risau, engga ada lagi galau karna kita paham itu memang yang sudah dikendaki oleh Allah. Itu adalah yang terbaik untuk kita. Bisa jadi Allah memberikan kita musibah sekarang biar kita terhindar dari musibah yang lebih besar di waktu mendatang, bisa jadi Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan sekarang karena Dia ingin memberikan kita yang lebih baik dari yang kita inginkan. Kita kan engga tau apa yang ada di depan, tapi Allah sudah tau itu. Jadi hidup ini jalani dengan enjoy aja, nikmatin setiap proses yang kita lakukan, setiap usaha kita, setiap jerih payah kita pasti Allah menyiapkan yang terbaik untuk kita. Wallohualam bisshowab.

Kamis, 07 Februari 2013

How you thinking?


Ntah benar atau tidak saya percaya semua orang memiliki cara berpikir atau mindset yang mereka yakini dalam menjalani hidup atau mungkin yang disebut prinsip. Ada yang sangat serius, ada yang nyantai, ada yang perhitungan, ada yang merencanakan dengan detil setiap yang akan dilakukan, ada yang ngalir seperti aliran air, hidup ya jalani aja, ada yang selalu optimis, ada yang pesimis, ada yang tidak dapat menerima kegagalan, setiap kegagalan membuatnya pusing tujuh keliling dan menyalahkan diri sendiri atau mencari kambing hitam atas kegagalannya, ada yang berpikir bahwa tidak ada yang namanya gagal hanya ketidakberuntungan saja, ada yang berusaha selalu sempurna dan ada pula yang berusaha apa adanya ya beginilah yang saya bisa.

"Mana bisa kita menilai hanya dari satu sikap saja? Orang serius gak selalu serius juga, orang optimis kadang pernah pesimis juga, orang nyantai bisa juga kerja cepat..!!"

Iya..tau, tapi cara berpikir kita menentukan bagaimana sikap kita yang sering kita timbulkan, dan cara berpikir itu sederhana saja bisa dideskripsikan dalam beberapa kata seperti yang saya sebutkan tadi. Orang yang serius bisa aja terlihat santai dan suka bercanda kalo ngomong tapi begitu ada pekerjaan, tugas, kegiatan, acara dsb dia akan kliatan tuh seriusnya bahkan dalam pekerjaan yang kecil dan bagi orang lain tidak penting akan digarapnya serius dan dianggapnya penting.

Emang ada orang kaya gitu?

Ada kalee.

Bagi orang yang nyantai mungkin bertanya-tanya engga bisa ya dia nganggap ini nyantae aja, engga bagus hasilnya juga gapapa toh engga ngefek sama nasibnya mau ada pekerjaan ini atau engga. Engga bisa tuh namanya juga prinsip, ya begitulah seperti menjadi bagian dari jati diri kita ga gampang terpengaruh atau mungkin ga bisa dipengaruhi orang lain tentang bagaimana kita harus bertindak.

"Kalau saya mah orangnya tipe nyantae dan kurang bisa serius dalam bertindak. Ini kelebihan sekaligus kekurangan saya. Kalau mendapat masalah dan keadaan yang tidak mengenakkan saya tetap aja nyantae dan slalu berpikir ya begitulah memang itu yang harus saya lalui kali ya. Namun celakanya juga begitu cara berpikir saya yang seperti itu secara perlahan dan tanpa sadar sudah membuat saya terperangkap dalam zona nyaman karena setiap tantangan yang datang selalu saja disikapi santai dan tidak begitu peduli apakah berhasil atau tidak, apakah hasilnya menjadikan saya lebih baik atau tidak, kalau baik alhamdulillah kalau buruk ya santai aja. Hidup seperti tidak ada masalah bagi saya. Kadang kalo saya sempatkan berpikir dan merenung atas permasalahan-permasalahan yang ada dihadapan saya bisa juga membuat saya merinding dan takut menghadapi apa yang akan terjadi bahkan sempat nih engga bisa tidur tuh pas saya coba benar-benar memikirkan masa depan. Tapi esoknya ya udah kembali lagi nyantai, pikiran saya yang selalu menganggap semua gampang lebih mendominasi daripada memikirkan masalah yang sedang dihadapi." Nah lo.

Mengubah kebiasaan itu tidak sulit, banyak yang mengatakan kalau kebiasaan sulit dirubah, harus perlahan-lahan. Engga kok kalau mau ngrubah cepat dan express juga bisa, bikin aja checklist daftar kegiatan yang harus dilakukan sehari-hari sampingnya sediain makanan/ snack favorit kita, tiap mencentang daftar kegiatan kita berhak ambil satu snack. Ampuh tuh buat ngerubah kebiasaan. Yang sulit itu buat ngerubah cara berpikir kita. Saya sendiri membuktikan kebiasaan berubah namun cara berpikir masih sama.

Memang benar apa yang dikatakan kalau mau berubah, ubah dulu kebiasaan kita, tapi kalau menurut saya ubah dulu cara berpikir kita. Kita harus mampu menemukan kelemahan dan kekurangan dalam cara kita berpikir dan bertindak, ulang-ulang itu di memori otak kita bahwa kekurangan itu harus bisa dibenahi.

Hal tersulit adalah melakukan action atas apa yang kita pikirkan apalagi yang bertipe nyantai seperti saya ini, musuh besar. Harus mampu memaksakan diri untuk mengawali melangkah karena berada di zona nyaman itu sangat sangat nyaman sekali namun tidak membawa perubahan. Ada yang bilang makanya hidup harus punya visi, tujuan yang ingin dicapai.

Ya..semua orang pasti punya tujuanlah tapi lagi-lagi cara berpikir yang mengeksekusi bagaimana kita bertindak untuk mencapai visi kita. Mangkanya kita kudu banyak belajar biar bisa tau dan mengenal beragam hal di dunia ini untuk bisa mempengaruhi cara berpikir kita agar lebih cepat kita bertindak, lebih baik dalam melangkah dan lebih energik menjalani hidup.

Well kembali ke kalimat awal saya, entah benar atau tidak. Silahkan mencari referensi sendiri.

Rabu, 30 Januari 2013

Prologue

Bingung mulai nulis dari mana, dari tadi nulis satu kalimat dua kalimat hapus, nulis lagi hapus lagi sampe capek. Maunya kepingin bikin tulisan kayak note2 atao page2nya temen2 di fb ato tulisan2 di blog ato web, keliatannya keren kalo punya tulisan yang bisa dibaca banyak orang apalagi kalo banyak yang suka dan memberikan komentar. Tapi begitu mau nulis lah kok bkin kalimat pertama aja belom2 uda pusing mau nulis apaan nih, hadoohhh...yaudah deh daripada bingung-bingung ga usah dipikirin mau nulis mulai dari mana ataupun nulis apaan yang penting tulis aja semua yang muncul di kepala. 

Ngomongin soal jalan, --tunggu2,, emang tadi ngomongin soal jalan?? Kagak sih. Heheh bodo amat deh lha itu yang nongol di pikiran, hehe-- saya uda berkali-kali ngalamin ban bocor di tengah jalan, baik pagi, siang, sore, sampe tengah malem pun pernah. Uda kayak warung burjo aja nih buka 24 jam. Tapi emang bener saking seringnya bermasalah dengan ban motor saya kemana-mana selalu bawa dompet. hahah yaiyalah kalo pergi ya bawa dompet. Ok emang gak ada hubungannya. 

Tapi bukan itu yang mau saya sampaikan disini, saya kebanan (ban motornya bocor) justru di tengah jalan raya Klaten-Jogja yang jalannya itu bisa dibilang uda mulus. Ya, begitulah emang saya lagi sial aja ato emang ada yang sengaja naroh benda tajam di tengah jalan, heheh engga engga saya tidak punya pikiran begitu ketika kebanan itu. saya cuma berpikir aja jalan besar nan mulus aja masih banyak kerikil2 tajam apalagi jalan yang belom beraspal pastinya akan lebih banyak ditemui bahkan bukan cuma kerikil tapi juga batu besar yang tidak cuman bikin ban bocor tapi bisa bengkok tuh velg roda kalo nabarak,heheh. 

Nah coba kita analogikan kita hidup di dunia ini ibarat menapaki jalan, setiap orang memilih jalannya sendiri-sendiri namun pada akhirnya tujuan mereka sama yaitu menuju ke tempat dimana kualitas hidupnya menjadi lebih baik (yang dimaksudkan disini adalah tujuan duniawi-red, kita blum berbicara masalah akhirat). Setiap kali melangkah tak bisa dipungkiri pasti kita akan menemui kerikil2 yang menghambat jalan hidup kita tinggal bagaimana kita menyikapinya apakah akan menganggap hal itu sebagai kesialan ataukah melihatnya sebagai suatu hal yang wajar ditemui ditengah langkah kita. 

Intinya apa? 

Masalah itu akan selalu ada baik dalam kondisi kita yang baik maupun buruk, baik ketika kita melakukan kebaikan maupun keburukan. 

Namun sungguh celaka jika kita melakukan keburukan, sudah tak ada untungnya masih juga kena masalah, waduh dobel sial ini. Hidup tanpa masalah itu tak ada. Hidup mulus-mulus aja itu ga ada. Hidup enak terus engga ada. Begitu juga dengan hidup susah terus juga kagak ada. 

"Lha itu si A hidupnya enak terus, si B sengsara mulu?" 

Ah itu sih cuman menurut kita aja seperti yang saya bilang tadi kacamata manusia itu subjektif hanya menilai dari apa yang bisa kita liat. Kita kan ga tau kalo ternyata si A punya penyakit ginjal, istrinya sering uring-uringan, anak satu-satunya pergi punya kerjaan sukses di luar kota tapi ga pernah nengokin orangtuanya. Si B bisa jadi memang hidupnya susah ditambah lagi pikirannya selalu susah karena tidak pernah bersyukur, hehe tapi bisa jadi juga si B ini walaupun terlihat sengsara di mata kita namun ternyata dia tidak merasakan kesengsaraan karena pandai bersyukur. 

Ini ni yang gawat kalo memandang diri sendiri tidak bisa obyektif, belum bisa menempatkan dirinya sesuai dengan keadaanya, yang ada yang kliatan cuman masalah yang tak kunjung abisnya, susah, susah dan susah. Padahal kalo mau sedikit menerima apa yang ada padanya bisa jadi si B ni lebih beruntung dari si A, memiliki badan sehat, istri setia, anak-anak yang patuh, cuman memang kurang kalau dilihat secara materi. Tapi bukankah materi bukan ukuran untuk hidup enak atau sengsara? Begitulah jadi intinya jadi gak jelas dan saya malah jadi bingung sendiri sama yang saya tulis barusan karena tulisan awal dan akhir engga nyambung. Sekian.

Yang mikir tulisan ini kok selesainya kentang (kepalang tanggung), ya maap sebab ini cuman celetukan aja. Yah...semoga bisa jadi mikir deh kalo kena kentangnya.hehe..